Selasa, 06 Desember 2011

Catatan Suksesi Primer Terlengkap Ada di Krakatau

Suksesi primer adalah suksesi yang dimulai dari tempat yang sebelumnya tidak terdapat vegetasi di dalam lokasi tersebut.

Banyak sekali proses suksesi yang terjadi di dunia, tapi untuk mempelajari proses suksesi primer, bisa dilihat pada gunung Krakatau dimana data yang terkumpul paling lengkap. Gambaran proses suksesi Krakatau bisa dilihat pada gambar sebagai berikut:
Proses suksesi pasca Erupsi Krakatau

Dari gambar di atas dapat dilihat pertambahan jenis Angiospermae dan Gymnospermae. Dalam 48 tahun, terdapat penambahan 271 jenis tumbuhan Angiospermae dan Gymnospermae. Spesies kriptogami seperti ganggang biru dan tumbuhan paku. Lalu menyusul jenis-jenis rumpau dan tumbuhan perintis yang dalam hidupnya mmebutuhkan banyak cahanya. Pada tahun 1932, atau 48 tahun setelah erupsi baru terbentuk hutan campuran.

Kamis, 03 November 2011

Swasembada Garam vs Konservasi


 

 Selasa, 1 November 2011 saya menghadiri Seminar Nasional “Strategi Swasembada Garam” yang diselenggarakan oleh Balitbang Kelautan dan Perikanan bersama Fakultas Ekologi Manusia IPB. Kebetulan kuliah saya saat itu sedang kosong, seminarnya gratis, jadi kenapa tidak saya ikut seminar ini, toh banyak ilmu baru yang saya dapat. 

Secara garis besar seminar ini membahas tentang apa-apa yang akan dilakukan dalam usaha swasembada beras, meliputi arah kebijakan, usaha ekstensifikasi dan intensifikasi. Ada banyak hal baru yang saya tangkap di sini, terutam hal-hal mendasar tentang garam. Seminar ini cukup ramai, karena banyaknya narasumber yang hadir dan menyampaikan materinya yakni Menteri Kellautan dan Perikanan; Direktur Pemberdayaan masyarakat pengembangan usaha ditjen kelautan pesisir dan pulau-pulau kecil; Ditjen Basis Industri Mmanufaktur kementrian perindustrian, Direktur Utama PT. Garam, Bupati Sampang Madura, Ketua Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen IPB, Deputi Klimatologi BMKG, Kepala Balai Besar Riset Ekonomi Kelautan dan Perikanan, Kepala Puslitbang Sumberdaya Laut dan Pesisir, dan Kepala Pusat Teknologi dan kekayaan Intelektual kementrian perindustrian (heuh..banyak yaaa..) . Saking banyaknya, saya merasa matei yang disampaikan sangat umum dan keterbatasan waktu menyebabkan proses diskusi menjadi kurang sreg..

Garam yang awalnya saya pikir bisa terbentuk secara instan dari air laut yang dikeringkan ternyata tidak demikian. Garam memerlukan beberapa persyaratan yakni satu liter air kadar garamnya minimal 25 gram garam, kelembaban udara yang rendah, pantai yang landai, dan tanah yang tidak porus. Di Indonesia tidak semua pantai cocok untuk bertani garam. Beberapa wilayah yang cocok untuk bertani garam adalah pantai utara jawa, NTB, NTT, dan sulawes bagian selatan. Unruk daerah Sumatra, pantainya tidak sesuai untuk bertani garam karena kadar garm di pesisirnya yang rendah akibat banyaknya aliran sungai.

Nah, pasti banyak yang belum tahu harga gram yang dijual oleh petani kepada pengumpul. Sangat kecil sekali, bayangkan 1 kilo garam yang kelas I dihargai Rp. 750 rupiah. Saat ini produktivitas garam di Indonesia sangat kecil rata-rata hanya 40-50 ton/ha dan kualitas garam di Indonesia jarang yang mencapai kualitas I. kondidi ini sangat berbeda dengan garam impor yang rata-rata sudah mencapai kualitas I. Misalkan harga garam hasil petani dihargai Rp. 500/kg maka penghasilan yang didapat jika mampu produksi sebanyak 25 juta/ ha belum termasuk ongkos angkut dan biaya operasional lainnya. 

Ada beberapa topik bahasan yang cukup mengusik saya yakni usaha swasembada garam ini dengan teknik ekstensifikasi yakni perluasan lahan. Disebutkan oleh pembicara yakni Bapak Slamet Untung yang juga Direktur Utama PT. Garam, untuk swasembada akan dibuka lahan kurang lebih 2000 di Wilayah NTB, kupang dan NTT sebnyak 600-800 Ha dan Gorontalo. Selain itu disebutkan sebelumnya bahwa investor untuk mau berinvestasi jika luasantambak garam > 1000 ha. 

Dari sini, bsa dibayangkan kehancuran ekolgis yang tercipta akibat reklamasi pantai untuk usaha garam. Di sini saya tidak menghakimi usaha ekstensifikasi ini. Tetapi sebelum dilakukan instensifikasi ini alangkah baiknya ada suatu penelitian tentang daya dukung dari kawasan. Selain itu juga harus dipertimbangkan kerugian ekonomi yang muncul akibat potensi banjir dan bencana yang ditimbulkan oleh pembukaan lahan pantai untuk garam secara besar-besaran ini. Jangan sampai petani garam untung tapi mullti sektor lain dirugikan. Oh ya disebutkan pula pada awal diskusi, akibat pola iklim yang tidak menentu juga menyebabkan kerugian dari petani garam. Nah dari siru saja sudah terlihat bagaiman perubahan lingkungan berdampak pada seluruh sektor termasuk petani garam. Kondisi ini tentu tidak diinginkan lagi, menurut saya. 

Satu lagi hasil pemikiran yang tercetus saat mengikuti seminar ini. Ada beberapa statement yang menyebutkan bahwa adanya mangrove menyebabkan penggaraman berjalan lambat karena menghalangi proses penguapan. Nah, demi keberlangsungan ekonomi dan ekologi apakah ada rancangan desain yang menggabungkan mangrove serta tambak garam yang akan menjadi win-win solutions?, atau bahkan mungkin bahwa adanya mangrove di sisi –sisi tambak bisa meningkatkan kualitas garam serta produktivitas garam di Indonesia. Hmm, siapa tahu ada yang berminat meneliti?

NB : materi seminar ini bisa diunduh di http://fema.ipb.ac.id
        sumber gambar dari sini

Kamis, 20 Oktober 2011

10 Negara dengan Tutupan Hutan Terluas

Siang ini saya tidak sengaja membaca Newsweek Magazine yang tergeletak di lobi Perpustakaan LSI IPB. Buka-buka majalah tersebut, ada info singkat tapi cukup menarik menurut saya, yakni 10 besar negara dengan tutupan hutan paling luas di Dunia.

Data ini merupakan data tahun 2010 dengan sumber data adlaah FAO. Dari data tersebut diketahu tutupan hutan di dunia saat ini tersisa hanya 31.4 % saja. Untuk urutan negara dengan tutupan hutan terluas adalah sbb:

1. Suriname (94.6%)
2. Micronesia (91.43%)
3.America Samoa (90.%)
4. Seycheles (89.13 %)
5.Palau (86.96%
6. Gabon (85.53 %)
7. Bhutan (84.63%)
8. Solomon Island (79.06%)
9. Guyana (77.24%)
10. St. Lucia (77.05%

Nah dari kesepuluh yang disebutkan di atas, hanya beberapa saja yang saya tahu. Sekarang pertanyaannya, tingginya tutupan hutan itu apa karena tidak ada pemanfaatan atau sistem pelindungannya bagus?

5 Kota dengan Polusi Udara Tertinggi di Dunia

 Gambar dari sini

Jika saya ditanya kota mana yang memiliki polusi udara paling tinggi, saya pasti akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan jawaban China, London atau yang lain. Nah hari ini saya menemukan info yang sangat menarik mengenai data kota dengan polusi udara terbesar di dunia. 

Jangan harapkan kota-kota dengan Indistri tinggi, tetapi yang muncul adalah kota sebagai berikut:
1. Ahwaz, Iran (372)*
2. Ulan Bator, Mongolia (279)*
3. Sanadaj, Iran (254)*
4. Lidhiana, India (251)*
5. Quetta, Pakistan (251)*
* Microgram of Cubic Meter of PM. Standar kualitas udara dari WHO adalah 21

Mengapa polusi udara terjadi pada kota-kota Non Industri tersebut? Data WHO menyatakan bahwa polutan yang ditemukan dari negara-negara tersebut adalah gas pembakaran dari kayu bakar yang masih digunakan sebagai bahan bakar utama. Selain itu, kotoran hewan yang kering juga memberikan kontribusi kepada polusi udara di Kota tersebut.

Selain informasi yang disajikan di atas, ditampilkan juga kota dengan polusi udara paling sedikit di dunia yakni Whitehorse, Canada dengan 3 Microgram percubic meter PM. Bagaimana untuk Jakarta?. Sumber ini menyatakan bahwa kadar polutan di jakarta adalah sebesar 104 Mikrogram per meter kubik, tentu saja jauh melebihi ambang batas yang ditetapkan oleh WHO. Penyumbang polusi terbayak di kota Jakarta adalah kendaraan bermotor.

Sumber bacaan : TIME edisi October 2011 (hal 11)

Selasa, 18 Oktober 2011

Mengenal Biocharc




Sumber gambar sini


Pada beberapa hari yang lalu, dosen saya menerangkan sedikit tentang Biochar. Sedikit penjelasan itu ternyata berhasil memancing rasa penasaran saya. Coba-coba searching tentang Biocharc, ternyata sudah banyak bahasan tentang Biocharc. Namun, di Indonesia bahasan tentang Biocharc ini belum banyak, terbukti dari hasil searching saya di google tidak ada bahsan tentang Biocharc dalam bahasa Indonesia. 

Apa itu Biocharc?
Biocharc adalah produk yang sarat akan karbon yang terbentuk ketika biomassa (kayu, kotoran hewan, daun) dipanasakan dalam wadah tertutup (suhu > 700⁰C) dengan sedikit atau tanpa air. Dari segi teknis yang lebih dalam, biocharc diproses melalui dekomposisi termal dengan supply oksigen yang sangat minim.
Biocharc sudah sejak dulu dikembangkan oleh masyarakat di Pedalaman Amazon yang dikenal dengan wilayah Dark earth yang juga dikenal dengan Terra Preta dan diketahui tanahnya sangat subur. Biochar sudah dikembangkan oleh masayrakat Amerendian sebelum kedatangan bangsa Eropa di Amerika sebagai pengatur tanah. 
 Salah satu contoh biocharc (Sumber gambar sini)
Manfaat Biocharc

Jika pada zaman dahulu Biocharc dikenal sebagai pengatur tanah, saat ini penelitian menunjukkan bahwa biocharc saat diaplikasikan ke tanah memiliki banyak manfaat, yakni :
a.      Pembenah tanah.
Dengan aplikasi biocharc bisa meningkatkan produktivitas pertanian. Biocharc bukanlah penyubur/pupuk tetapi biocharc berfungsi untuk membantu penyerapan nutrisi atu unsure hara yang ada di dalam tanah. Penggunaan biocharc sebagai pembenah tanah tidak membutuhkan sumberdaya baru, tetepi bisa menggunakan sumberdaya yang sudah ada dengan memanfaatkan limbah pertanian yang dihasilkan menjadi biocharc.
b.      Pemanfaatan Limbah
Pembakaran limbah pertanian dan peternakan menyebabkan polusi. Oleh karena itu, limbah tersebut lebih baik dimanfaatkan untuk biocharc. Secara spesifik manfaat biocharc adalah (a) mengurangi emisi methan dari pembakaran (b) Memanfaatkan energy dari limbah (c)Mengurang limbah industry, (d) Mengurangi energy yang terbuang dari transportasi limbah
c.       Mitigasi Climate Change
Menambahkan biochar ke tanah bisa menyerap kaarbon dioksida. Aplikasi biocharc berfungsi ganda sebagai pengikat karbon yakni dari tanaman yang ditanam yang semakin efektif penyerapannya karena tumbuh lebih baik denganmenggunakan biocharc serta biocharc sendiri  yang menjerap karbon di udara. Mekanisme penyerapan karbon bisa dilihat di gambar di bawah ini?

Untuk yang ingin tahu lebih banyak tentang biocharc bisa membuka link ini

Sumber bacaan : buku Biocharc for Environmental Management (Chapter I)

Minggu, 16 Oktober 2011

Pohon Tumbang = Regenerasi Hutan

Secara alami, hutan memiliki kemampuan untuk berada dalam suatu keseimbangan dan mampu memperbaiki diri sendiri dengan bereproduksi yang biasa disebut dengan kemampuan regenarasi secara alami suatu komunitas tumbuhan. Ada beberapa proses yang bisa mendorong proses terjadinya regenerasi dalam hutan, salah satunya Tumbangnya pohon .Tumbangnya pohon merupakan sesuatu proses yang sederhana, tetapi merupakan kunci regenerasi di hutan tropis.

Pohon tumbang merupakan gangguan alami yang terajadi pada hutan tropis. Adanya pohon tumbang ini merupakan mekanisme untuk menjaga keanekaragaman di dalam hutan. Proses regenerasi melalui gaps ini bisa bekerja melalui penyediaan cahaya yang berarti mendorong regenerasi bagi spesies-spesies intolerant dan semi toleran untuk mencapai produktivitasnya. Kondisi ini juga mengurangi kompetisi dengan tanaman yang non-toleran. Selain itu spesies bisa berasosiasi dengan lingkungan di sekitarnya untuk mencari kondisi yang paling stabil untuk pertumbuhan tanaman.

Beberapa mekanisme regenerasi melalui gap adalah sebagai berikut :
1.      Dari benih. Benih-benih yang tersebar melalui angina tau melalui bantuan dari hewan yang sifatnya intoleran dan memerlukan banyak cahaya serta temperature yang mendukung untuk perkecambahannya.
2.      Dari pertumbuhan spesies-spesies yang cepat akibat terbentukanya gaps, spesies-spesies ini awalnya tumbuhnya terhambat karena adanya persaingan cahaya.
3.      Dari pertumbuhan vegetativ, Pohon yang tumbang dimungkinkan memproduksi sejumlah tunas
4.      Dari penyebaran lateral, liana atau epifit yang ada di pohon yang bisa terjadi karena adanya ruang dalam lingkungan hutan tersebut. 

Sumber :

Kimmins, J.P. 2004. Forest Ecology : a Foundation for Sustainable Forest Management and Environmental Ethics in Forestry. Pearson Education, Inc.Upper Saddle River.