Senin, 06 Februari 2012

Mengenal Sedikit : Hutan Rakyat Sengon

Pada saat saya mudik dari bangil-bogor, saya memilih untuk menggunakan kereta api ekonomi. sepanjang perjalanan, tepatnya masih di sekitar daerah Jawa Timur yakni Malang, Madiun dan sekitarnya saya melihat banyak sekali lahan-lahan yang ditanami dengan beberapa tanaman kehutanan antara lain senon, jabon, dan tentu saja jati. tapi dari tiga jenis yang saya sebutkan jenis sengon-lah yang paling mendominasi. 

Hal ini tentu saja sangat mengesankan untuk saya yang sudah lama bergelut dengan dunia kehutanan. ternyata, bisnis di seputaran dunia kehutanan masih sangat menjajikan. apalagi jika kita melihat berbagai manfaat bisnis di bidang kehutanan, selain menghasilkan rupiah juga bisa sebagai salah satu sarana ameliorasi lingkungan. dalam satu sisi lain, orang membeli tanah bukan untuk membangun rumah, tapi menanam pohon yang akan menghasilkan oksisgen!. 

Nah, artikel ini saya buat sebagai sarana belajar dan siapa tahu ada manfaatnya untuk anda yang ingin sedikit tahu tentang seluk beluk usaha hutan rakyat dengan kayu sengon. 

Sejarah Sengon di Indonesia

Sengon sebetulnya mer upakan spesies asli dari Indonesia Timur (Maluku dan Irian Jaya). Pada sekitar tahun 1870-an, senn dibawa ke Jawa, tepatnya di Kebun Raya Bogor dan akhirnya menyebar ke seluruh Indonesia pada akhirnya. 


Pada awalnya sengon hanya dijadikan kayu bakar dan peneduh. seiring denganmenipisnya cadangan kayu, sengon yang memiliki pertumbuhan yang cepat mulai dilirik sebagai kayu Industri yang dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan. 

Prospek Hutan Rakyat Sengon

Sengon merupakan primadona untuk bisnis kehutanan yang dilakukan skala masyarakat. Beberapa alasan mengapa sengon dijadikan primadona adalah sebagai berikut :
1. Masa tebang relatif pendek, yakni 5-7 tahun
2. Pengelolaan relatif murah
3. Persyaratan tempat tumbuh tidak rumit
4. Kayuanya multifungsi
5. Permintaan pasar terus meningkat
6. Dapat meningkatkan kualitas lahan dan menyuburkan tanah serta memperbaiki kualitas lingkungan. 

Penanaman sengon skla kecil, sudah banyak dilakukan oleh masayarakat, terutama di Pulau Jawa. Terlebih lagi dengan banyaknya bantuan dari emerintah yang mendukung penenaman sengon oleh masyarakat. kayu sengon umumnya dimanfaatkan sebagai kotak kayu yang diekspor ke berbagai negara, sebagai kayu pertukangan, dan lain-lain. 

Harga sengon juga cukup bersaing, dan pastinya akan menguntungkan petaninya. tahun 1992, harga kayu sengon di pasaran bebas adalah Rp. 60.000/m3. Pada tahun 2009, harga jual sengon tentu saja meningkat, yakni kurang lebih Rp. 1.000.000 -1.200.000/ m3. jika perbatang kurang lebih Rp. 500.000 /batang. 

Jika dalam satu hekter terdapat kurang lebih 3000 batang sengon, anda bisa kalkulasi berapa kira-kira keuntungan anda. 

hmmm, artikel ini cukup di sini saja. pada artikel selanjutnya, Insyaallah akan dibahas lebih lanjut tentang seluk beluk sengon dari segi silvikultur, hama, dan lainnya.

Minggu, 29 Januari 2012

Catatan Suksesi Hidrosere


Setelah pada postingan sebelumnya, saya membagikan hasil studi literatur saya terkait suksesi primer xeroxere yang terjadi di Gunung Krakatau, pada kesempatan ini saya akan membagikan hasil studi literatur saya terkait suksesi primer hidrosere. jika suksesi xeroxere terjadi  pada habitat kering, maka sebaliknya suksesi ini dimulai pada habitat yang basah.


Pada suksesi ini, beberapa tahapan yang khas yakni : pembentukan endapan, meninggikan tanah endapan lebih dari permukaan air, dan menurunkan tinggi muka air tanah untuk menciptakan habitat selain di darat. Tumbuhan perintis pada suksesi jenis ini adalah jenis tumbuhna air yang tumbuh pada lumpur misalnya Ceratophylum.

Lalu tumbuhan perintis ini akan mati dan tertimbun sehingga meninggikan permukaan dan muncullah daun yang menutupi tanaman sebelumnya. Jenis yang muncul selanjutnya yakni Lemma, Azolla, dan Thypa. Dengan demikina suksesi terjadi dari daerah yang basah menjadi daerah yang relative kering.

Contoh suksesi Hidrosere yang tercatat yakni Suksesi di Danau Gatun pada terusan Panama yang dicatat oleh Koneyer (1929), yakni ssbb:

Tahap Suksesi di Danau Gatun

Kamis, 29 Desember 2011

Korupsi dan Ilegal Logging di Indonesia


Korupsi , tidak dapat dielak lagi sangat berkaita erta dengan ilegal logging di Indonesia. Gambar di atas menurut  Senaca Creek Association (2004) menunjukan korelasi antara tingkat korupsi dan kegiatan illegal logging pada beberapa negara antara lain Brazil, Rusia, Malaysia, Jepang, Rusia, Indonesia dan lain-lain. Indonesia, pada gambar di atas memperlihatkan tingkat korupsi yang tertinggi dan persentase kayu sebesar kurang lebih 60 persen yang tidak jelas secara legalitas. Terdorongnya banyak pihak untuk melakukan ilegall logging karena berbagai keuntungan yang diperoleh, terutama menurunnya biaya produksi yang dikelurakan untuk membayar insentif kepada pemrintah, yang digambarkan oleh gambar di  bawah ini :
 
Dari gambar di atas dapat diketahui komponen biaya apa saja yang akan hilang jika kegiatan penebangan secara illegal yang pastinya kan memeberikan keuntungan kepada perusahan-perusahaan kehutanan tersebut. Biaya yang dikelurkan yakni suap kepad apejabat-pejabat yang tentu saja jika dibanddingkan dengan biaya operasional secara legal pastinya lebih sedikit. Terlebih lagi, akan ada kemudahan-kemudahan lain yang didapat dengan menyuap beberapa oknum pemerintahan.

Berdasarkan hasil penelitian dari Berlin- Transparancy International diketahui dari lima negara yang terkorup di dunia yakni Rusia, Indonesia, dan Venezuela masing-masing memiliki sumberdaya hutan yang tinggi, yang merupakan indikasi adanya hubungan hasil hutan dengan korupsi. Jika dituangkan dalam bentuk table perbandingan kegiatan korupsi yang berkaitan dalam illegal logging di Indonesia dan negara-negara penghasil sumberdaya hutan serta tingkat korupsi tinggi  menurut Palmer (2000) adalah sbb :
 
Selain dari tipe aktivitas yang disebutkan di atas, berikut adalah hal-hal yang berkaitan dengan ilegall logging dan praktik korupsi di Indonesia :
1.      Ketidakjelasan ekonomi dan politik
Dalam ketidakjelasan politik dan ekonomi, dimana kekuasaan pemerintah hanya terbatas pada periode tertentu merupakan kesempatan besar bagi politikus yang korupsi untuk meningkatkan kesejahteraan pribadi mellaui berbagai aktivitas terutama mmeberikan ijin untuk kegiatan eksploitasi hutan
2.      Patron-Client
Hubungan antara klien dan peindung merupakan hubungan mendasar dari praktek korupsi di kehutanan. Dari hubungan ini pelaku illegal logging dilindungi, manipulasi pajak. Hubungan ini sangatlah sulit untuk dibuktikan karena seringkali para pelaku illegal logging dilindungi juga oleh partai politik, terutama era Presiden Soeharto.
3.      Banyaknya Birokrasi
Salah satu faktor penting yang menyebabkan banyak kasus korupsi yakni banyakanya birokrasi dalam pengurusan ijin atau hal yang terkait lainnya. Banyaknya birokrasi ini memberikan kesempatan bagi oknum-oknum untuk melakukan lobi –lobi yang akhirnya menguntungkan para oknum teresbut dan memberikan keuntungan pribadi bagi anggota pemerintahan yang terlibat.


4.      Sistem perpajakan dan subsisdi
Di Indonesia, terdapat beberapa pembayaran yang ditetepakan oleh pemerintah kepada perusahaan kayu. Sistem pengawasan pajak yang lemah memberikan kesempatan banyak perusahaan kayu untuk memanipulasi pembayaran pajak. Padahal, jika dibandingkan dengan skotlandia tarif pajak yang ditetpakan di Indonesia sangat kecil, dibandingkan dengan yang ditetapkan oleh negara-negara lain.  Dengan minimnya pajak,  perusahaan-perusahaan tersebut akhirnya mendaptakan keuntungan yang sangat besar. Selain itu sebenarnya banyak sekali kemudahan yang diberikan pemerintah kepada perusahan kehutanan ini, yakni sbb:
·         Penghapusan pajak
·         Tidak ada biaya tambahan yang dikenakan kepada perusahaan dalam penggunaan jalan atau fasilitas umum yang dibuat oleh pemerintah
·         Pemberian bantuan yang diberikan pemerintah kepada perusahaan untuk menutupi beberapa biaya operasional
·         Pemberian pinjaman dengan bunga yang sangat rendah
Kemudahan yang diberikan oleh pemerintah ternyata masih belum cukup, sehingga lobi-lobi dilakukan untuk menurunkan tingkat pajak yang dibayarkan dan ini adalah ladang korupsi dan suap.
5.      Monopoli Pasar Kehutanan
Konsesi hutan dan industry pengolahan kayu terkonsentrasi pada beberapa perusahaan saja. Para pemilik perusahaan besar ini memiliki hubungan yang baik dengan berbagai petinggi dalam pemerintahan dan partai politik yang saling mendukung.
6.   Konsesi Hutan
Ketidakjelasan peraturan pemerintah serta kepemilikan konsesi dalam jangka pendek mendorong perusahaan-perusahaan untuk melakukan praktik illegal. Modus yang sering dilakukan yakni tidak mengindahkan peraturan kepemilikan konsesi, membuka hutan, dan meninggalkan hutan yang telah dibuka tersebut.

7.      Pelarangan Export
Pelarangan export yang diberlakukan oleh pemerintah mendukung adanya praktik illegal logiing dan pasar dalam negri dipenuhi oleh kayu-kayu illegal. 

8.      Otonomi Daerah
Adanya pemberlakuan otonomi daerah merupaan salah satu penyebab besar dari korupsi sektor kehutanan. Selain itu pelaksanaan kehutanan yang terpusat di Jakarta, sedangkan tanggung jawab pelaksanaan di daerah sering sekali menimbulkan miss-komunikasi sehingga pelaksanaan kebijakan semakin melemah.

DAFTAR PUSTAKA

Palmer, Charles E. 2000. The extent and causes of illegal logging: An analysis of a major cause of tropical Deforestation in Indonesia. London : Economic Departement University Collage London.

Wardojo, Wahyudi; Suhariyanto, dan Purnama, Boen. 2001. Law Enforcement And Forest Protection In Indonesia:A Retrospect And Prospect. Bali : East Asia Ministerial Conference on Forest Law Enforcement and Governance, Bali, Indonesia, September 11-13, 2001

Colfer, Carol J. Pierce, and Ida Aju Praqdnja Resosudarmo, Editors.   2001.  Dynamics of Illegal Logging in Indonesia Forests dalam Policy and People in Indonesia. RFF. Washington, D. C

Seneca Creek Association. 2004. “Illegal” Logging and Global Wood Markets: The Competitive Impacts on the U.S. Wood Products Industry. Maryland : Wood Resources International.